Suraidi Sipan (b. 1950)
SELECTED POEMS
Ballada lewat senja
Ketibaannya pada lewat senja
dengan mulut terkucur darah
dan di dadanya terbenam sebilah belati tua
dari sejuta kedustaan umatnya.
Sambil merentasi desah angin keras yang sisa
dia terus menghela nafas usia kelahirannya
dari degup-degup kemanusiaan.
Dia yang terkucur darah dari mulutnya
rebah dalam kepucatan wajah
di atas hamparan rumputan kering lata
dan bungabunga lalang yang gugur berserakan
oleh keresahan nafas bicara
menampari lembut pada wajahnya
dan tibatiba
senja yang terutus dari celahan keharuman cempaka
telah ditimpa celaka
bila
rebut dendam dari utara
membawa bersama ratusan burungburung gagak menggila
yang lapar dengan mata bernyala bagai bara api
menjilat rakut akan tubuhnya
dalam timbunan kepahitan warna senja
dan
bulan merah di puncak pohon kelapa
mula membahangi tubuh yang luka dari belati tua berbisa
bila malam melewatinya
dengan membawa bersama satu perkabungan
seluruh senja.
Di sini di benua sendiri
Akhirnya
semuanya bertemu juga di sini
di benua sendiri
pada suatu rapat kecil tanpa pembicara
dalam keresahan yang lumrah
dari wajahwajah kian luput keluhurannya.
Dengan dada terobek dari seabad kesengsaraan
Diungkapkannya kegetiran yang menampal
pada tubuhtubuh berlumur duka.
Warga warisan mutlak yang pernah terukir olehnya
di benua sendiri
hilang kewibawaannya
dan lidah juara pidatonya
yang cekal tanpa keraguan
kian kelu mendakap keutuhan hak
dalam perdebatan perjuangannya.
Semuanya menjadi senang berpaling wajah
dari kesetiaaan yang biasa
bila antaranya yang berhimpun di sini
bersama piagam yang terpahat
pada setiap jiwa
rebah satu demi satu akan cintanya
yang membawa keruntuhan umatnya
di sini di benua sendiri.
Dan semuanya yang berhimpun di sini
dengan dada gementar kelaparan
dalam kegelisahan memburu diri
tertalak dari pegangannya
pada kiblat yang saturday lalu
tubuh-tubuh berdarah
dari kepingankepingan hati yang sisa
terus berhijrah dan berkelana
di sini di benua sendiri
Dimana kau sukmaku
Di kabus tebal ini
aku mencari akan kau sukmaku
yang hilang diantara gemerlapan
lampu-lampu jalanan.Dimanakah kau sukmaku
di puncak menara
atau di ranting cemara
atau dikesibukan jentera-jentera arus kehidupan.Aku yang terlantar kekaburan
tergoda oleh kegelitaan malam
dan
kau terus menyembunyi
langsung membuat aku sendiri
dalam perjalanan ini.Nyanyi puisi
Aku mahu berpuisi
kerana di Afrika ada kebuluran
seorang ibu menggendong anak dalam buruan
di samping berdiri perajurit tua tersenyum perit
menghidu asap senapang dari satu peperangan
dan dari longgokan pesawatpesawat using
ada bayangbayang berserakan
menyusuri kepulan debudebu bahang
menyanyi lagu kebebasan.Aku mahu berpuisi
kerana baru semalam
dari kamar kecil Camp David
ada masih sempat menguntum senyum
mengunyah buah tamar
dari Iskandariah dan Baitulmakdis
bila esok tugunya
akan tersemat pada dada
Gurun Sinai Tebing Barat
dan
di utara Tel Aviv ada pesta berdarah
buminya masih sendiri
badai api membakar hangus
meragut rakus tubuhtubuh kerdil
dan di antara runtuhan temboktembok mati
ada anak kecil bersama mesiu
bersiul lagu kedamaian penuh rindu.Aku mahu berpuisi
kerana hari ini bukan penentu
yang membuat aku sendiri
dari pengertian hidup ini
bila bakal esok semuanya tidak lagi peduli
pada segala peristiwa ini
dan
aku mahu terus berpuisi dan berpuisi
biarpun bumi mati sepi.
by Suraidi Sipan
from Debudebu jalanan (1984)
An Evening Ballad
He arrived in the late evening
with a bleeding mouth
and an old dagger in his chest
from the lies of a million people.
While crossing the strong wind
he then sighed his age
of the beats of humanity.
He who’s mouth bleeds
collapsed with a pale face
on a bed of dry grass cascades
and lalang flowers scattered
by the breath of anxiety
gentle slap on the face
and suddenly
nightfall between the cempaka’s fragrance
being cursed
when
revenge towards the north
brought together hundreds of crazy crows
hungry with eyes like burning coals of fire
licking its body
in the bitter evening
and
the red moon is at the top of the coconut tree
starting to heat the injured body from
the old venomous dagger
when the night passes
along with
mourns
throughout dusk.
Here in its Own Land
Finally
everything meets here
in its own land
in a small congregation without a speaker
in a common anxiety
from the faces with disappearing nobility
With a torn chest from a century of misery
Expressed bitterness from the bodies smeared with tears.
Heirs of absolutism
on his own land
lost his credibility
and the champion orator
gritty without a doubt
becoming speechless in embracing integrity
in this debated cause.
Everything brings happy faces with faith
when those gathered here
with engraved plague
in every soul
fall one by one with love
which led to the fall of his people
here on his land.
And all who gathered here
in anxiety that hunts them
divorced from their faith
in that direction of last Saturday
bloodied bodies
of the remaining shattered hearts
continue to move and wander
here in his own landWhere Are You, My Soul
In this thick fog
I search for you, my soul
lost among the luminous
street lights.Where are you, my soul
at the tower’s top
or on the casuarina
Or in the bustle of mechanised life?Abandoned in a haze
I was tempted by the darkness of night
and
you always hide from me
making me desolate
in this journey.
by Suraidi Sipan
translated from the Malay by Nur Diyanah Razali
from Debudebu jalanan (1984)
